HTC_-_ilustrasi_artikel-april-Mengapa_Solo_Disebut_Surakarta,_Begini_Sejarahnya

Mengapa Solo Disebut Surakarta?, Begini Sejarahnya

Di seluruh Indonesia, mungkin hanya Kota Solo saja yang mempunyai nama sebutan lain yaitu Surakarta yang merupakan nama resminya. Mengapa hal ini dapat terjadi?, pasti sahabat Hartono Trade Center merasa penasaran. Untuk mengetahui alasan atau latar belakangnya, sebaiknya mempelajari lebih dulu sejarah keberadaan kota ini.

Sebelumnya bernama Sala

Penggunaan kata ‘Solo’ memiliki kaitan erat dengan era penjahan Belanda di daerah ini. Di masa tersebut sebetulnya masyarakat lebih sering memakai nama ‘Sala’ yang merujuk pada suatu desa yang didalamnya terdapat ditemukan banyak sekali tanaman Sala.

Bagi sahabat Hartono yang belum mengetahui, Sala adalah sejenis pinus dengan nama latin Pinus merkusii jungh et de vriese. Sementara itu pada saat yang bersamaan, desa tersebut dipimpin oleh seseorang yang bernama Ki Gede Sala.

Menjadi pusat kerajaan

Di masa kolonial Belanda, di Batavia ada sekelompok etnis Tionghoa yang mendapat penindasan dari penguasa VOC. Kemudian mereka melarikan diri ke sebuah kawasan di Jawa Tengah, yaitu Keraton Kartosura yang dipimpin oleh Raja Paku Buwana II.

Ketika itu, Raja Paku Buwana II memiliki hubungan sangat dekat dengan pemerintah Belanda. Dari sini pasti sahabat Hartono Trade Center bisa menebak bahwa kedekatan tersebut membuat etnis Tionghoa menjadi tidak suka. Bahkan saat ada kesempatan, mereka melakukan pemberontakan.

Pemberontakan ini mengakibatkan kerusakan yang sangat parah di lingkungan istana. Melihat kenyataan ini, Raja Paku Buwono II membuat keputusan memindahkan ibu kota kerajaan ke Desa Sala. Puncak perpindahan ini terjadi pada tanggal 17 Februari 1745 dan tanggal inilah yang sekarang ditetapkan sebagai hari ulang tahun Kota Solo.

Dari Sala menjadi Solo lalu Surakarta

Sahabat Hartono Trade Center, Desa Sala menjadi pusat pemerintahan baru Kerajaan Kartosuro ini menimbulkan permasalahan yang lumayan unik di kalangan pemerintah Belanda. Mereka kurang cakap mengucapkan kata ‘Sala’ dan hanya mampu menyebut dengan nama ‘Solo’. Dari sinilah kemudian daerah Sala berubah menjadi Solo.

Sementara itu pada sisi yang lain, Raja Paku Buwono II menyebut ibu kota baru bagi kerajaannya dengan nama lengkap Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Khusus untuk nama Surakarta sendiri adalah kebalikan dari Kartasura.

Sahabat Hartono Trade Center perlu mengetahui, nama tersebut merupakan gabungan dari dua kata, Sura dan Karta. Jika Sura punya arti berani menghadapi tantangan maka Karta mengandung makna berkah.

Jadi secara harfiah, Kartasura atau Surakarta didirikan dengan tujuan untuk mengajak masyarakat agar memiliki sifat berani dan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa mendapat berkah. Sedangkan Hadiningrat adalah kata yang bermakna harapan terciptanya suasana aman dan tentram.

Selanjutnya sejak masa kemerdekaan, Surakarta dijadikan nama resmi daerah tersebut di lingkungan pemerintahan Indonesia. Meski demikian sahabat Hartono Trade Center pasti lebih sering menyebut Kota Solo karena terkesan lebih familiar. Bahkan kota ini di dunia penerbangan, mendapat kode SOC yang merupakan singkatan dari Solo City.